Welcome to My Blog!

This is Boxer Template Demo Site
Follow Me
Showing posts with label TEMPAT. Show all posts
Showing posts with label TEMPAT. Show all posts


Garut adalah sebuah Kabupaten di Jawa Barat yang dikelilingi oleh lima gunung sehingga sebagian besar wilayah Garut adalah daerah pegunungan, kecuali daerah di sekitar pantai yang terletak di selatan Garut. Dengan keadaan geografis seperti itu, secara otomatis Garut memiliki banyak tempat wisata menarik. Apa saja tempat wisata di Garut yang paling terkenal?

1. Pantai Santolo


Pantai Santolo 300x200 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Pantai Santolo
Terletak di Kecamatan Cikelet, Pantai Santolo adalah salah satu tempat wisata di Garut yang paling populer. Pantai Santolo yang terletak 88 KM di selatan kota Garut merupakan tempat wisata andalan Garut yang banyak dikunjungi oleh warga Bandung. Daya tarik dan kelebihan yang dimiliki pantai ini yaitu panoramanya yang indah, keheningan yang ditawarkan, dan fasilitas penunjang wisata yang cukup lengkap.

2. Situ Bagendit


Situ Bagendit 300x200 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Situ Bagendit
Situ Bagendit adalah sebuah danau yang berlokasi di Kecamatan Banyuresmi. Situ Bagendit adalah tempat wisata danau yang paling terkenal di Garut karena kualitas lingkungannya yang dalam kondisi baik dan kebersihannya yang terjaga. Kegiatan wisata yang dapat anda nikmati di sini yaitu menikmati pemandangan, bermain perahu dan sepeda air, menaiki rakit khas Situ Bagendit, memancing, hingga bermain di taman dan berenang di kolam renang.

3. Pantai Rancabuaya


Pantai Rancabuaya 300x199 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Pantai Rancabuaya
Pantai Rancabuaya adalah salah satu tempat wisata di Garut yang terkenal. Ciri khas dari Pantai Rancabuaya adalah ombaknya yang lumayan besar karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, dan batu karangnya yang banyak dan besar. Kedua hal tersebut menyebabkan beberapa ikan terperangkap di antara batu-batu karang, cukup menarik untuk dilihat. Keunikan lain dari Pantai Rancabuaya adalah adanya sebuah air terjun yang langsung menghadap ke lautan.

4. Curug Orok


Curug Orok 300x225 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Curug Orok
Curug Orok adalah sebuah tempat wisata di Garut yang berupa air terjun. Berlokasi di Desa Cikandang, Curug Orok adalah tempat wisata air terjun di Garut yang paling terkenal. Nama Curug Orok berasal dari cerita masyarakat Garut yang mengatakan bahwa dahulu kala ada seorang ibu yang membuang bayinya dari atas air terjun tersebut. Curug Orok memiliki ketinggian sektiar 45 meter dan banyak dikunjungi wisatawan dari kota Garut, Bogor, Bandung, dan Jakarta. Harga tiket masuk Curug Orok adalah 10,000 Rupiah per orang.

5. Gunung Papandayan


Gunung Papandayan 300x225 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Gunung Papandayan
Gunung Papandayan adalah gunung api yang lumayan terkenal bagi warga Jawa Barat, terutama Bandung dan Garut. Terletak di Kecamatan Cisurupan, Gunung Papandayan hanya berjarak 70 KM dari kota Bandung sehingga banyak warga Bandung yang pergi berwisata ke Gunung Papandayan. Daya tarik utama dari Gunung Papandayan adalah kawah dan air panasnya. Selain itu banyak juga pecinta alam yang datang mendaki Gunung Papandayan untuk melihat keindahan panorama matahari terbit dari gunung ini. Apabila anda ingin mendaki Gunung Papandayan, jangan lupa membawa baju hangat.

6. Pantai Cijeruk Indah


Pantai Cijeruk Indah 300x225 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Pantai Cijeruk Indah
Pantai Cijeruk Indah yang berlokasi di Desa Sagara termasuk pantai yang lumayan indah dan menarik untuk dikunjungi. Keunggulan dari Pantai Cijeruk Indah adalah pantai ini tidak ramai, bersih, alami, dan mempunyai air yang sangat jernih. Dalam perjalanan ke Pantai Cijeruk Indah, anda akan disuguhi pemandangan indah berupa perkebunan karet yang tertata rapi, lengkap dengan hewan-hewan ternak seperti sapi yang digembalakan di kebun karet tersebut.

7. Air Panas Cipanas


Air Panas Cipanas 300x200 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Air Panas Cipanas
Cipanas adalah nama daerah di Garut yang terkenal dengan permandian air panas alaminya. Air Panas Cipanas terletak sekitar 6 KM dari kota Garut dan 50 KM dari kota Bandung. Dalam perjalanan mencapai Air Panas Cipanas, anda akan melewati pegunungan dengan hamparan sawah yang hijau dan indah. Air Panas Cipanas banyak dikunjungi wisatawan baik yang menginap maupun yang hanya ingin beristirahat sejenak setiap harinya karena Air Panas Cipanas mengandung berbagai jenis mineral yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, selain itu fasilitas di daerah ini juga sangat lengkap untuk kegiatan wisata.

8. Pantai Karang Paranje


Pantai Karang Paranje 300x225 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Pantai Karang Paranje
Pantai Karang Paranje adalah pantai yang berlokasi di Kecamatan Cibalong, Garut. Pantai Karang Paranje memiliki keunikan berupa adanya gugusan karang di sepanjang pantainya. Di pantai seluas kurang lebih 9 hektar ini anda dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah. Karena belum tersentuh berbagai jenis pembangunan, Pantai Karang Paranje mempunyai tingkat kebisingan rendah, pandangan yang luas, tidak ada pencemaran, lingkungan yang asri, dan suasana yang damai dan tenang.

9. Pantai Puncak Guha


Pantai Puncak Guha 300x183 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Pantai Puncak Guha
Terletak di Garut Selatan, Pantai Puncak Guha adalah sebuah tempat wisata di Garut yang bebas dari pedagang yang mengganggu pemandangan. Pantai Puncak Guha menawarkan keindahan panorama pantai yang dilihat dari atas tebing. Di bawah tebing itu anda dapat melihat ratusan kelelawar. Apabila anda ingin berkunjung ke Pantai Puncak Guha, bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup karena jarang ada pedagang di Pantai Puncak Guha.

10. Candi Cangkuang


Candi Cangkuang 300x279 10 Tempat Wisata di Garut yang Paling Terkenal
Candi Cangkuang
Candi Cangkuang yang berlokasi di Kecamatan Leles adalah sebuah tempat wisata di Garut yang sering dikunjungi wisatawan dari Garut, Jakarta, Bandung, Bogor, hingga Cirebon. Candi Cangkuang merupakan candi Hindu peninggalan Kerajaan Sunda Galuh. Untuk dapat mencapai Candi Cangkuang, anda harus menaiki rakit untuk menyeberangi danau dengan biaya 2,000 Rupiah.



Sebagai kota yang sempat ditetapkan sebagai ibu kota Hindia Belanda pengganti Jakarta (walau ketetapan itu akhirnya ditarik kembali), Bandung memiliki sejumlah tempat dan gedung bersejarah. Di bawah kami pilihkan 10 tempat bersejarah di Bandung yang pantas dikunjungi.

1. Jalan Asia Afrika
Sebagai jalan tertua, Jalan Asia Afrika menjadi saksi bagi banyak pembangunan awal di pusat Kota Bandung. Di sepanjang jalan ini masih terdapat beberapa bangunan dari awal pendirian hingga Jaman Keemasan Bandung. Beberapa memiliki nilai historis, seperti Alun-alun (lapangan publik tertua di Bandung), Savoy Homann (hotel tertua di Bandung), dan Gedung Merdeka (tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika). Oleh karena itu, Jalan Asia Afrika juga dapat dianggap sebagai jalan utama Bandung. 

2. Kilometer 0
KM 0 adalah suatu titik di mana Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata, “Coba usahakan, bila aku datang ke tempat ini sebuah kota sudah terbangun”. Kilometer 0 ditandai dengan sebuah monumen kecil. Titik ini juga dapat dianggap sebagai sentra Kota Bandung. 

3. Alun-alun
Konsep Alun-alun Bandung mengacu pada Catur Gatra, yang berasal dari Kerajaan Mataram. Seperti Alun-alun di kota-kota Indies di Pulau Jawa, Alun-alun merupakan lahan terbuka berbentuk persegi empat tempat warga kota berkumpul untuk kegiatan sosial dan budaya, tempat berlangsungnya upacara-upacara pemerintahan, dan tempat berekreasi. 

Konsep Catur Gatra menempatkan Alun-alun di pusat, keraton atau pusat pemerintahan lokal di sisi selatan Alun-alun, masjid di sisi barat, dan pusat kegiatan ekonomi dan sosial di sisi timur. Khusus di kota-kota Indies yang mendapat pengaruh kolonial, di sisi utara biasanya dibangun penjara.  

4. Masjid Agung 
Masjid yang dibangun pada tahun 1812 ini adalah masjid pertama di Bandung. Arsitektur Masjid Agung pada awalnya dirancang dalam gaya lokal (rumah panggung yang terbuat dari kayu dan atap rumbia) yang sangat sederhana. Selama sejarahnya yang hampir mencapai 200 tahun, masjid ini telah mengalami 8 kali renovasi. 

5. Gubernuran
Gedung ini adalah kediaman Residen Priangan pertama di Bandung. Gubernuran mulai dibangun pada tahun 1864 sebagai kediaman Residen Priangan saat itu, Van der Moore.  Pada masa sebelumnya, pusat Karesidenan Priangan berada di Cianjur. Namun dengan meletusnya Gunung Gede yang menghancurkan kota itu, pemindahan lokasi pun segera dilaksanakan. 

6. Stasiun Pusat Kereta Api Bandung
Stasiun kereta api pertama di Bandung ini dibangun akibat pertumbuhan ekonomi Bandung yang mulai pesat menjelang akhir abad ke-19 sehingga mendorong dibukanya jalur transportasi. Pada tahun 1884, jalur kereta api dari Batavia tiba pertama kali di Bandung. Peristiwa ini membuat Bandung yang sebelumnya hanya sebuah desa kecil di dataran tinggi Priangan menjadi semakin terbuka dan ramai oleh pengunjung, terutama dari Batavia. 

7. Vila Isola
Vila Isola adalah gedung Art Deco karya C.P. Wolff Schoemaker dan dianggap salah satu bangunan yang berhasil dalam menyatukan bangunan dengan lingkungannya. Dalam perkembangannya, bangunan ini sempat berfungsi sebagai hotel sebelum diambilalih oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 1953 sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Kini, bangunan unik ini merupakan bangunan milik Universitas Pendidikan Indonesia.

8. Jalan Braga
Jalan paling bergengsi di Hindia Belanda di era 1920-30an ini muncul seiring pembangunan gedung-gedung publik dan komersial selama 1920-an hingga 1930-an, mengundang tidak hanya warga Bandung kelas atas untuk berbelanja atau rendezvous, juga turis mancanegara. Aktor Hollywood seperti Charlie Chaplin hingga para delegasi Konferensi Asia Afrika 1955 pernah melenggangkan kakinya di sini. Tidaklah berlebihan bila jalan sepanjang 800 m ini pernah dijuluki ‘The Most Fashionable Street in The East Indies’ – tempat untuk saling mengagumi pesona diri dan penampilan raga pengunjungnya.

9. Gedung Merdeka
Gedung Merdeka, yang pada awalnya adalah club house Societeit Concordia, dilestarikan sebagai salah satu bangunan historis Kota Bandung. Di gedung inilah Konferensi Asia Afrika diselenggarakan pada tahun 1955. Pada 24 April 1980, diresmikan Museum Asia Afrika yang menempati sayap kiri gedung.

10. Gedung Konvensi Landmark

Bangunan cantik bergaya Art Deco ini pada awalnya merupakan Toko Buku dan Percetakan van Dorp yang didesain oleh C.P. Wolff Schoemaker. Konon keuntungan yang dihasilkan perusahaan ini mampu membangun 50 vila mewah pada masanya. Hiasan kala (pahatan seperti yang terdapat di candi-candi Hindu) serta kaca patrinya yang berwarna-warni merupakan ciri khas bangunan ini. Saat ini, Landmark digunakan sebagai pusat konvensi, tempat banyak pameran di Bandung berlangsung.  


Seperti halnya Bandung dan kota-kota lain, Garut pun memiliki julukan-julukan yang sudah cukup dikenal di masyarakat luar. Jika Bandung terkenal sebagai kota Mode, Parijs Van Java; Cirebon kota Udang;Bogor kota hujan dan Depok kota petir, maka Garut terkenal sebagai kota dodol atau Swiss Van Java
-
Julukan-julukan tersebut diberikan bukan tanpa alasan. Hanya daerah tertentu saja yang mempunyai julukan. Keanekaragaman budaya dan kondisi alam menjadi sebuah alasan kenapa suatu kota mendapat sebuah julukan.

Berikut ini beberapa julukan yang disandang oleh kota Garut beserta penjelasannya.

1. Garut Swiss van Java dan Mooi Garoet

Sumber : travel.detik.com

Swiss van java atau kota Swiss yang ada di Jawa diberikan kepada Garut karena keindahan panorama alamnya. Gunung-gunung vulkanik yang mengepung kota Garut, memberikan hawa sejuk dan pemandangan yang sangat indah. Sekitar awal abad ke-20, Garut sempat terkenal sebagai tujuan wisata. Ditandai dengan berdirinya tempat penginapan dan pengelolaan beberapa tempat wisata. Bahkan, di depan stasiun Garut didirikan Tourist Bureau” untuk membantu para wisatawan mendapat informasi tentang Garut. Keindahan kota Garut diabadikan dalam Encyclopedie van Nederlands-Indie (Ensiklopedia Hindia-Belanda) yang terbit tahun 1917.

Jika swiss van java terkenal sekitar abad ke-20, julukan Mooi Garoet atau Garoet Mooi muncul sebagai ungkapan kekaguman pada zaman kolonial atas keindahan alam kota Garut.

2. Garut Pangirutan

Sumber : http://maenkegarut.wordpress.com/

Lahirnya Idiom Garut Pangirutan memang bukan basa-basi. Banyak selebritis Dunia sengaja datang ke Garut untuk plesiran. Diantaranya Charlie Chaplin, artis bind movie dari Hollywood yang saat itu sangat terkenal. Charlie Chaplin berkunjung ke Garut pada tahun 1928. Karena didatangi banyak turis, Garut menjadi tempat pertemuan orang-orang dari berbagai benua. Suasana seperti ini direkam oleh S. Ahmad Abdullah Assegaf dalam novel Fatat Garut (Gadis Garut) yang terbit pada tahun 1979 dalam bahasa Arab. Memasuki zaman revolusi, Kota Garut ,mengalami banyak kehancuran. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan pariwisata Garut seperti dulu. Tapi, masa-masa Garut Pangirutan belum tertandingi hingga saat ini.

Jujur saya pun baru tahu kalau Garut pernah mencapai masa keemasan sebagai kota wisata dunia. Sampai-sampai artis sekaliber Charlie chaplin yang dulu sangat terkenal mau singgah ke Garut bahkan dua kali. Semoga kejayaan Garut sebagai kota Pangirutan bisa kembali lagi. Tapi entah kapan.

3. Garut ‘Kota Intan’

Sumber : http://fokusjabar.com

Julukan Garut sebagai Kota Intan diberikan oleh presiden Soekarno ketika berkunjung ke Garut pada tanggal 8 Desember 1960. Pada kunjungannya, Soekarno merestui Kota Garut diujuluki sebagai ‘Kota Intan’. Julukan itu bukan tanpa alasan, karena Kota Garut saat itu sangat bersih dan asri, bahkan termasuk kota terbersih di Indonesia. Itulah buah dari kepemimpinan Bupati Gahara yang secara telaten menjaga kebersihan kota, sehingga masyarakat ikut terpanggil dan sering melakukan kerja bakti tanpa harus diperintah. ‘KOTA INTAN’ dapat diartikan Kota Indah, Tertib, Aman, Nyaman.

4. Garut ‘Gurilaps’

Sumber : riparhand.blogspot.com

Garut sejak dahulu dikenal memiliki banyak objek wisata. Banyaknya tempat wisata di Garut, melahirkan julukan Garut ‘GURILAPS’ (basa Sunda – Gemerlap). GURILAPS merupakan singkatan dari GUnung, RImba, LAut dan Pantai, Seni budaya. Garut memiliki objek wisata yang lengkap, dari wisata alami hingga wisata buatan. Mulai dari wisata Gunung, seperti Gunung Guntur, Cikuray, Papandayan dan Talaga Bodas. Wisata Rimba seperti Hutan Sancang. Wisata Laut dan Pantai seperti Santolo, Pameungpeuk, Rancabuaya, Sayangheulang dan lain sebagainya. Wisata Seni dan Budaya seperti Candi Cangkuang, Kampung Dukuh, Makam Godog, Adu Domba dan berbagai macam kesenian dan budaya Garut lainnya.  Wisata Cipanas dan Darajat sebagai wisata buatan tempat pemandian air panas yang alami berasal dari kaki gunung Guntur.

5. Garut ‘Kota Dodol’

Sumber : google.com

Mau pergi ke Garut? Jangan lupa bawa dodol ya! Saking terkenalnya dengan dodol, wisatawan biasanya membeli oleh-oleh dodol sebagai tanda sudah berkunjung ke Garut. Dodol ada berbagai macam jenisnya, ada dodol aneka rasa buah, dodol ketan dan dodol original. Ada juga angleng, yaitu penganan manis nan legit yang dibungkus kulit jagung.  Untuk membeli oleh-oleh dodol ini cukup mudah karena sepanjang jalan Otista, alun-alun Tarogong sampai jalan Kadungora, banyak berjejer toko penjual oleh-oleh khas Garut. Salah satu produsen dodol yang cukup terkenal di Garut adalah produsen dodol Picnic.  

5. Garut ‘Kota Domba’

Sumber : http://www.infoternak.com

Selain penganan dodol, Garut pun terkenal karena varietas domba yang dikenal sebagai domba Garut. Domba Garut terkenal sebagai domba yang kuat dan gagah. Wajar saja jika harga domba ini lebih mahal dari jenis domba lainnya. Terlebih adanya budaya adu domba, menjadikan varietas domba Garut tetap lestari. Apalagi jika domba itu merupakan jawara adu domba, maka harga domba tersebut bisa naik berkali lipat. Domba Garut merupakan hasil perkawinan campuran antara domba lokal dengan domba jenis capstaad dari Afrika Selatan dan domba merino dari Autralia. 
Keberhasilan sesuatu usaha / perjuangan yang rumit dan berliku – liku jalan yang harus dilaluinya, sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri, yang tak dapat dinilai dengan apapun.

Betapa tidak, karena yang awalnya bermodalkan 0 (nol ), baik gedung, fasilitas praktek, tenaga pengajar dan dana, semuanya semata – mata hanya diperoleh dengan mengandalkan kerelaan orang lain yang mau membantu meminjamkan fasilitas yang diperlukan dalam rangka pendirian STM di Garut.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Drs. Sidharta Kepala SMA Negeri Garut yang rela meminjamkan ruang belajar teori, demikian pula untuk Bapak Kepala STN yang telah merelakan ruang prakteknya dipakai STM.

Tidak lupa kepada guru – guru dan TU, baik dari STM Instruktor Bandung, IKIP, Inspeksi Pendidikan Teknik maupun dari STN Garut dan lain sebagainya saya ucapkan terima kasih.

Pendirian STM tidak dapat dipisahkan dengan pendirian sekolah persamaan STN. Yang dapat diterima menjadi siswa adalah khusus lulusan SK ( Sekolah Kerajinan ) Negeri yang lama belajarnya hanya 2 tahun. Lulusan SKN tidak dapat melanjutkan pendidikannya dan harus bekerja. Sedangkan usia lulusan SKN sama sekali belum cukup umur untuk masuk usia kerja. Lulusan dari persamaan STN dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang lebih tinggi.

Setelah selesai sekolah Persamaan STN, sebuah pertanyaan yang terus bergejolak dalam hati, mengapa Garut tidak mampu untuk memiliki STM, padahal pada saat itu selalu digemborkan bahwa teknologi merupakan tulang punggung negara. Dengan keadaan yang sangat terpaksa lulusan STN atau mau melanjutkan pendidikannya harus mencari STM di kota lain, yang dengan sendirinya menambah beban biaya orang tua. Pada awal tahun 1963, sekalipun dengan modal nol saya merintis, mengajukan gagasan pendirian STM di Garut kepada rapat dewan Guru STN. Rapat saya pimpin sendiiri selaku Ketua Dewan Guru. Hasilnya sungguh diluar dugaan, karena hanya Sdr. Oman Romlan saja yang mau menerima gagasan tersebut, sedangkan ada sebagian yang tidak yakin bahwa STM dapat dibuka dalam 2 atau 3 tahun lagi, sebagian lainnya tidak bersuara. Hati berkata, jawaban bukan dengan lisan tetapi dengan perbuatan nyata. Keputusan rapat Dewan Guru menjadi motivasi untuk terus berjuang.

Rapat saya tutup dan diluar berbicara khusus dengan Sdr. Oman Romlan (Alm., tentang tekad saya.

Kesimpulan pembicaraan, dengan modal nol saya edarkan keseluruh STN dan SMPN se-jawa barat, bahwa di Garut telah dibuka STM Garut sekalipun pada saat itu tahun pengajaran sudah dimulai.

Alhamdulilah tahun 1963, sambutan masyarakat positif terdaftar 50 orang siswa untuk dua jurusan.

Setelah ada beberapa pendaftar, baru disibukan dengan upaya – upaya mencari pinjaman tempat belajar, tenaga pengajar dan lainnya yang sangat diperlukan. Semuanya dapat dipenuhi.

Pada tahun 1963 awal berdirinya STM di Garut, tidak bernaung pada salah satu organisasi atau badan hukum apapaun, karenanya saya diberi nama STM GARUT dan lokasi belajarnya teori di Jalan Gagak Lumayung – Sukaregang bangunan darurat SMAN dan praktek di STN. Sedangkan guru – gurunya seperti yang telah disebutkan diatas. Modal keuangan semata – mata hanya diperoleh dari siswa dan yang pertama menyerahkan bantuan (modal awal) sebelum sekolah berjalan yang pada akhirnya dianggap uang pangkal adalah Sdr. Nani dari Kepolisian.

Pada awal tahun 1964 sejalan dengan perjuangan YAYASAN PEMBINA TEKNIK (YPPT) di Bandung dan sekretariatnya berkedudukan di Inspeksi daerah Pendidikan Teknik (sekarang menjadi kantor pendidikan menengah kejuruan) dimana saya termasuk salah seorang pengurus diantara penguru – pengurus lainnya diantaranya Bapak Harta Sutisna, Bapak Rochadi, Bapak Noor Rachmat dan lainnya, yang sedang gencar dan penuh semangat, dengan tekad yang bulat sekalipun harus menanggung resiko dipecat sebagai guru, setiap Kabupaten di Jawa Barat harus memiliki minimal sebuah STM sekalipun berstatus swasta.

Langkah pertama, menginvertarisir minimal seorang dari setiap Kabupaten yang punya jiwa juang.

Langkah kedua mengundang mereka ke Bandung, untuk diberi penjelasan, dibina, dan tugas, agar disetiap kabupaten dimana mereka berdomisili harus berdiri minimal sebuah STM sekalipun berstatus swasta, dengan limit waktu satu bulan sejak pengarahan. Disetiap kabupaten yang telah berdiri STM diwajibkan membuka kantor YPPT Perwakilan dari Bandung, dengan akte notaris sebagai landasan pendirian STM, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga dan peraturan lainnya, semuanyamenginduk YPPT Pusat Bandung.

Alhamdulilah sekalipun khusus untuk Kabupaten Garut telah mendahului satu tahun dari pelaksanaan program YPPT Pusat di Kabupaten lainnya se–jawa barat telah didirikan sebuah STM swasta.

Pada saat program YPPT pusat dimulai, langsung STM Garut tanpa ragu menyatakan dirinya masuk dalam lingkungan dan naungan YPPT Pusat, tunduk dan taat kepada semua ketetapan dan keputusan YPPT.

STM Garut yang semula seperti anak ayam kehilangan induknya, pada saat itu dapat beridiri lebih tegak karena mempunyai induk yang siap membantu dalam menghadapi berbagai kesulitan yang tidak biasa diselesaikan sendiri.

Sungguh sangat hebat dan mulia daya juang guru-guru dan staf tata laksana, sangat perlu mendapat tambahan pendapatan (honorarium) akan tetapi dengan hati yang ikhlas, tenaga, fikiran, dan waktu disumbangkan demi kemajuan sekolah yang mereka bina bersama sama, membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan anak bangsa.

Dana yang diterima sekolah dari 450 orang siswa, semuanya dikembalikan untuk kesejahteraan siswa baik untuk pengadaan kebutuhan

Pelajaran teori, praktek,kelancaran administrasi sekolah maupun honorarium Guru dan TU yang jumlahnya relatif kecil tidak memadai dengan keringat yang mereka keluarkan.

Sekolah berkembang terus, tiap tahunnya animo terus bertambah, jurusannyapun bertambah dari dua jurusan menjadi tiga jurusan, ditambah dengan jurusan listrik.

Kalau awal berdirinya STM saya disibukkan dengan mencari tempat belajar, menghimpun tenaga sukarelawan yang mau mengajar secara ikhlas di STM Garut lain halnya setelah Sekolah berkembang dan masuk tahun ketiga saatnya siswa harus menghadapi ujian akhir, upaya apapun yang harus dilalui, untuk kesejahteraan siswa harus dilakukan.

Terobosan pertama yang didukung oleh Pak Tatang (salah seorang pendiri STN Garut) yang pada saat itu berkedudukan di Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta, katanya tersedia mesin – mesin dan alat praktek, yang dapat dibawa ke Garut bila ada pernyataan dari Bupati bahwa di Garut telah dibuka STM.

Dua kali dalam dua minggu berturut-turut dengan penuh harapan untuk memperoleh pernyataan dari Bupati, dua kali pula memperoleh jawaban yang sama, “ JANGANKAN MEMBUKA SEKOLAH, KABUPATEN PUN DEFISIT “ dan dua kali saya menjawab yang sama, “ SAYA DATANG BUKAN UNTUK MENGEMIS, APA HUBUNGANNYA SURAT PERNYATAAN DENGAN DEFISIT “. Tak ada jawaban, karena penuh rasa penyesalan dan jengkel, saya pulang dan permisi dengan memukulkan tangan kemejanya.karena Garut tidak berhasil memperoleh surat pernyataan, mesin – mesin dan sebagainya dikirim ke Tasikmalaya.

Terobosan kedua, proposal saya serahkan kepada Ketua Yayasan Pembangunan Garut yang diketuai oleh seorang kolonel yang diterima dengan baik. Setelah diolah kembali oleh yayasan, diserahkan kepada Bupati dan Bupati bias menerima, Dana pada tanggal 17 agustus 1964 diumumkan / dilaporkan kepada masyarakat bahwa di Garut telah dibuka STM merupakan hasil karya pemerintah Kabupaten Garut.

Dengan diserahkannya proposal ke Yayasan dan berdirinya STM di Garut diakui hasil Pemerintah Garut, bagi saya tidak merasa dirugikan apapun, bukan popularitas yang menjadi tujuan, namun hasil perjuangan yang diutamakan dan diharapkan.

Selaku rakyat kecil saya dengarkan pengumuman Bupati sambil berdiri diluar pagar tembok kabupaten disertai senyum, hati berkata, beginilah cara kerja pemimpin. Bukan isi usul yang dicermati, tetapi lebih kepada “ siapa yang datang “.

Terobosan ketiga, saya kemas secara apik upaya penegerian sekolah, dengan harapan menjadi garapan YPPT Pusat, disamping penjelasan – penjelasan lainnya yang paling digaris bawahi pelaksanaan ujian akhir, yang dihubungkan dengan tanggung jawab orang tua yang mau tidak mau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk anaknya yang harus ujian di kota lain.

Alhamdullilah gagasan STM Garut disambut dengan baik, dalam rapat diputuskan upaya penegerian bukan hanya Garut saja, tetapi akan diperjuangkan seluruh STM yang ada di Jawa Barat, yang dibawah naungan YPPT. Keputusan kedua ditetapkan hari keberangkatan ke Jakarta. Tiga kali YPPT bertemu dan berbicara dengan Bapak – bapak pimpinan yang ada di Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan di Jakarta, untuk membahas penegerian STM YPPT yang ada di Jawa Barat. Hasil akhir sangat menggembirakan, bahwa STM YPPT se – Jawa Barat akan dinegerikan bersama – sama secara maraton, harinya berbeda satu hari dari Kabupaten satu dengan yang lainnya, dan nomor SK penegerianpun hanya berbeda satu dari STM yang satu ke STM yang lainnya.

Tanggal 30 September 1965 giliran STM Garut untuk menerima SK penegerian. Penyerahan surat keputusan (SK) penegerian disambut penuh suka cita oleh semua pihak. Dalam hati saya hanya berucap, alhamdullilah engkau maha pengasih dan penyanyang, dengan ridhomu, siswa dapat diselamatkan dari rasa khawatir harus mengikuti ujian ditempat lain. Terhapuslah bayangan adanya tambahan pengeluaran biaya, untuk makan, tidur, transport dan biaya sekolah tempat mereka ujian.

Bukan hanya siswa dan orang tua saja yang merasa gembira namun dirasakan pula oleh saya, guru-guru dan masyarakat Garut.

Perjuangan yang berliku – liku dan penuh dengan rintangan , akhirnya dengan ridho Allah SWT, semua dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Dari tidak punya menjadi punya, dari tidak ada menjadi ada, Kabupaten Garut memiliki Sekolah Teknik Menengah Negeri yang menjadi idaman dan harapan masyarakat.

Pada tahun 1964 saya dipercaya untuk menjadi Kepala Sekolah Teknik Negeri Garut, dan pada Tahun 1965 sambil menunggu ketentuan lebih lanjut STM Negeri masih saya pimpin.

Pada saat saya diharuskan menghadap Kepala Inspeksi Pendidikan Teknik,beliau dengan tandas mengatakan, tidak mungkin dua sekolah negeri dipimpin oleh satu orang, beliau menyerahkan pada saya untuk memilih apakah akan tetap di STN atau mau jadi Kepala STM Negeri.

Jawaban saya, menjadi Kepala STM bukan keinginan saya, tetapi ditentukan dan diangkat oleh Bapak. Perlu Bapak ketahui bahwa upaya saya dan kawan-kawan untuk mendirikan STM semata-mata bukan karena ada pamrih, ingin menjadi kepala STM N, tetapi berjuang agar Garut menambah kekayaan pendidikannya, membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Tak sedikitpun saya berharap dengan hasil perjuangan untuk mendapat imbalan menjadi kepala STM Negeri Garut.

Masalah jabatan semuanya menjadi wewenang Bapak, dimanapun saya akan ditempatkan insyaallah tidak akan ada protes, ketetapan Bapak saya anggap bersifat mutlak, akan saya laksanakan sebaikbaiknya dan semampu mungkin.

Jawaban beliau sambil memberi salam, beliau mengatakan “ saudara ditetapkan untuk menjadi Kepala STM Negeri Garut “ < Ucapan selamat saya terima dengan rasa terharu dan dalam hati sambil menunduk bersyukur kehadirat Illahi Rabbi, memohon Ridho dan bimbingannya. Selajutnya beliau memberikan nasihat dan petunjuk, akhirnya memerintahkan untuk segera mengadakan persiapan seperlunya dalam pelaksanaan timbang terima sebagai Kepala ST Negeri.

Dengan perubahan status, sebagai langkah awal, rapat staf harus segera dilaksanakan untuk pembenahan organisasi, administrasi sekolah dan lain sebagainya yang menunjang kelancaran belajar mengajar.

Sejak tahun 1965 lokasi sekolah pindah dari Jalan Gagak Lumayung Sukaregang (bangunan SMAN Garut) ke Jalan Gunung Payung bekas sekolah China yang diduduki oleh anak –anak KAPI STM Negeri kondisi sekolah dengan bangunan permanennya, lebih tertata rapih kalau dibandingkan dengan keadaan semula.

Pada awal tahun pengajaran 1966, animonya sangat banyak dan jauh dari daya tampung sekolah.

Pada tahun itu pula alhamdullilah mendapat tambahan ruangan belajar sekalipun bersifat pinjaman dari CV. Haruman sebuah pemborong yang bergerak membangun sekolah-sekolah se Indonesia. Lokasinya sekalipun agak jauh dari Jalan Gunung Payung, bolak – balik antara Jalan Gunung Payung ke Daerah Haurpanggung dan Tutugan Leles.

Dengan animo yang sangat jauh jumlahnya kalau dibandingkan dengan daya tampung sekolah, kembali kami harus berpikir dan berbuat untuk menolong masyarakat. Pertolongan apa yang bias diberikan untuk mereka. Kesimpulan saya yang mendapat dukungan penuh dari pengajar, bersepakat untuk menghidupkan kembali YPPT yang mengawali berdirinya STM Negeri.

Kembali saya proklamirkan bahwa di Garut dibuka STM YPPT, dibawah naungan, koordinasi dan tanggung jawab STM Negeri. Saya beserta staf mengatur demi kelancaran proses belajar mengajar baik di Negeri maupun di STM YPPT. Alhamdullilah 2 sekolah berjlan tanpa ada gangguan berarti. Sampai sekarang 2 sekolah negeri dan YPPT berjalan dengan perkembangan masing-masing. Perkembangan STM YPPT sekarang saya tidak mengetahui apa-apa, karena walaupun saya selaku pendiri tidak pernah lagi diajak bicara, malah dalam akte notaris yang dibuat sendiri oleh mereka ( tanpa pemberitahuan dulu pada saya ), nama saya sama sekali tidak tercantum.

Perkembangan STM Negeri sungguh sangat menngembirakan, dilihat dari aspek organisasi, administrasi, sarana dan prasarana dan lainnya sungguh sangat bangga kalau dibandingkan dengan kondisi selama 13 tahun saya memimpin STM Negeri Garut.

Alhamdullilah bakti untuk tempat kelahiran saya sekembalinya bertugas mengajar di Tanjung Enim (SUMSEL) dari tahun 1957 s/d akhir 1959 dipersembahkan 3 buah karya. Yang pertama menolong lulusan anak-anak SKN dengan persamaan STN-nya, kedua Sekolah Teknik Menengah Negeri dan Ketiga STM YPPT. Semoga amal bakti diterima Allah SWT, bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama. Amin.

Tidak menutup kemungkinan kalau dalam penyusunan bahan untuk pembuatan buku sejarah pendirian STM Negeri Garut banyak kesalahan dan kekeliruan. Semuanya itu terjadi karena kebodohan dan ketidakmampuan untuk merekan kejadian atau peristiwa 40 (empat puluh tahun) yang silam, dari upaya mendirikan STM tahun 1963 sampai keadaan sekarang tahun 2004.

Saya mohon maaf yang seikhlas-ikhlasnya, saran dan kritikan selalu saya nantikan demi lurus dan benarnya sejarah berdirinya STMN Garut.

SUATU hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo-Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api. 

Insiden Perobekan Bendera 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. 

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono. 

Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan. 

Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah. 


Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan. 

Bandoeng Laoetan Api 

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.
 

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. 

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api. 

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia. 

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris. 

Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air” 
A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi. 

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judulBandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api. 


Surabaya secara resmi berdiri pada tahun 1293. Tanggal peristiwa yang diambil adalah kemenangan Raden Wijaya, Raja pertama Mojopahit melawan pasukan Cina.

Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan. Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai hari Pahlawan.


Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa ditepian sungai Berantas sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang sungai tersebut.

Surabaya (Churabhaya) juga tercantum dalam pujasastra Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tentang perjalanan pesiar baginda Hayam Wuruk pada tahun 1385 M dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir)

Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M Pprasasti Trowulan) dan 1365 M (Negara Kertagama), para ahli menduga bahwa Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

Menurut hipotesis Von Faber, Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat pemukiman baru bagi prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M. Hipotesis yang lain mengatakan bahwa Surabaya dulu bernama Ujung Galuh.

Versi lain mengatakan bahwa nama Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup dan mati Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon setelah mengalahkan tentara Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah Keraton di Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama karena menguasai ilmu Buaya, Jayengrono makin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kekuatan dilakukan dipinggir sungai Kalimas dekat Peneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Kata “ SURABAYA “ juga sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, antara tanah dan air. Selain itu dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa nama Surabaya muncul setelah terjadinya peperangan antara ikan Sura dan Buaya (Baya)

Supaya tidak menimbulkan kesimpang-siuran dalam masyarakat maka Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, dijabat oleh Bapak Soeparno, mengeluarkan Surat Keputusan No. 64/WK/75 tentang penetapan hari jadi kota Surabaya. Surat Keputusan tersebut menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai tanggal hari jadi kota Surabaya. Tanggal tersebut ditetapkan atas kesepakatan sekelompok sejarahwan yang dibentuk oleh Pemerintah Kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata “Sura ing Bhaya” yang berarti “ Keberanian menghadapi bahaya “ diambil dari babak dikalahkannya pasukan Mongol oleh pasukan Jawa pimpinan Raden Wijaya pada tanggal 31 Mei 1293.

Tentang simbol kota Surabaya yang berupa ikan Sura dan Buaya terdapat banyak sekali cerita. Salah satu yang terkenal tentang pertarungan ikan Sura dan Buaya diceritakan oleh LCR. Breeman seorang pimpinan Nutspaarbank di Surabaya pada tahun 1918.

Masih banyak cerita lain tentang makna dan semangat Surabaya. Semuanya mengilhami pembuatan lambang-lambang Kota Surabaya. Lambang kota Surabaya yang berlaku sampai saat ini ditetapkan oleh DPDRS kota besar Surabaya yang keputusan No. 34/DPRS tanggal 19 Juni 1955 diperkuat dengan Keputusan Presiden R.I No. 193 tahun 1955 tanggal 14 Desember 1956.